Empat tahun yang sia-sia

Badanku gemeteran, jantung berdetak cepat tidak seperti biasanya, dan sedikit suhu yang cukup tinggi juga terasa dibadanku. Kulihat dijendela sepertinya hari mulai berganti malam dengan semburat cahaya ke orange yang perlahan meredup di tengah pergantian. Mungkin kondisi itu diperparah dengan kultur masyaraka di daerahnya yang cukup kental dengan nuansa magis yang secara masiv terngiyang dibenakku. Diperut ditemukan material bangun, mulut mengeluarkan darah, atau bahkan pernah ada berita bahwa bisa membuat orang menjadi kurang waras. Yaa… seperti itulah yang aku dengar.

 

“Dua puluh satu foto yang ada digroup ini (group kelas kami), foto aku sama cewek ini yang kau jadikan story WA mu” sergahannya melalui Voice Note yang tujukannya kepadaku

“kalau mau cari masalah samaku bilang, jangan kayak gini caramu” lanjutnya dengan nada yang semakin tinggi

Tak hanya sampai dsana saja, masih banyak pesan suaranya yang dikirim. Aku tidak terlalu memperhatikannya yang jelas semua pesannya dikirimkan dengan nada yang tinggi disertai dengan ancaman-ancaman yang semakin membuatku berpikir empat tahun yang sia-sia mengenalnya. Setelah banyaknya pesan suara yang dikirim, tak lama setelahnya aku membalas pesannya dengan emosi yang cukup kuat kutahan.

“Emosi bos?” Tanyaku sambil mencoba meredam emosinya

“Wanita?” tanyaku kembali meski pertanyaan seblumnya belum dijawab

Sebelumnya di juga mengancam untuk memberi perhitungan kepadaku ketika dia kembali ke pekanbaru.

“Emosi?.... setelah semua hal ini kau Tanya aku emosi atau enggak?, kau pikirlah sendiri” balasnya dengan nada yang agak nyeleneh

Tak berselang lama, ku perhatikan story WA yang ada di hp dan kulihat storynya dengan berisi pesan pesannya yang sedang emosi dengan storyku sebelumnya. Tak sampai disana, storynya yang lain juga berisikan maki-makiannya kepadaku dalam bentuk tangkapan layar di hanphonenya. Sepintas aku berfikir sepertinya dia bangga sudah memaki-makiku dan berharap ada orang lain yang respek kepadanya dan menanyakan kepadanya. Tak butuh waktu lama bagiku untuk menanyakan maksudnya telah begitu.

“Jadi maumu apa?” dengan pertanyaan yang tak lebih singkat dari pertanyaan sebelumnya ku tanyakan kepadanya.

Aku berharap dia segera mebalasnya, karena aku tau dia sangat emosi denganku sebelumnya. Namun setelah waktu yang cukup lama hingga pukul 20.20 WIB tak ada jawaban darinya. Kucoba menghubunginya dengan niat menanyakan kenapa dia sealay itu, yaa bagiku itu alay kali sampai-sampain pesan WA pun di jadikan story WA terlebih pesannya berisi makian yang semakin menyudutkanku. Aku berfikir positif saja mungkin dia sedang menjelaskan ke pacarnya tentang foto pada storyku sebelumnya yang berisikan gambarnya dengan seorang wanita lain.

Tapi sudahlah, karena kesimpulan akhirku adalah sebuah kesia-siaan mengenalnya dalam waktu empat tahun/


Sepi Menjijikkan


Waktu disudut kanan layar laptopku menunjukkan pukul 00.24. heningnya malam yang sudah beranjak menjadi pagi menyelimuti rumahku. Saat itu aku sedang mengerjakan tugas akhir kuliah pada bagian konsep operasional. ditengah konsentrasi yang sudah menguras isi kepalaku yang telah ditempa selama empat tahun dibangku perkuliahan, tiba-tiba aku merasa canggung karena disaat yang sama ayahku sedang menonton sebuah acara yang menurutku menjijikkan lantaran semuanya sudah diseting sedemikian mungkin dengan menyajikan masalah masalah rumah tangga.

"Selain dengan anaknya, saya juga pernah berhubungan badan dengan mbak sri (istri dari kakaknya)... Dia memaksa saya ketika saya sedang tidur, dia juga sepertinya tertarik dengan saya ketimbang suaminya sehingga membuatnya bercerai dengan suaminya yang juga merupakan kaka kandung saya"

Seketika perasaan geli sekaligus menjijikan mengalir di seluruh tubuhku lantaran mendengar dialog seseorang yang dalam acara itu sedang dihipnotis oleh asisten pembawa acara. perasaan menjijikkan ini barangkali disebabkan karena acara itu ditonton oleh ayahku ketika juga berada dalam satu ruangan yang sama dengannya.

Menurutku ini adalah momen yang paling absurb yang sangat menjijikkan. Sebenarnya aku ingin beranjak dari ruangan itu namun ditahan oleh tugas akhir yang menumpuk.
Sepertinya malam itu berpihak kepadaku, berselah sekitar 60 detik, acara itu diptong oleh sebuah iklan komersil yang menyelamatkan diri dari rasa menjijikkan ini. Kesempatan itu lantas tidak aku sia-siakan, kuambil remote tv dari samping kursi yang berada di depan TV. Secepat mungkin kutekan nomor-nomor yang ada disana tanpaku tau angka apa yang aku tekan.

Sebernarnya ini bukanlah sebuah momen yang menjijikkan terlebih apabila tontonan itu tayan ketika aku sedang dalam situasi kongkow-kongkow dengan teman sekarib. Barangkali dialognya mungkin akan kami tambahkan dengan dialog yang lebih syurr lagi. Maklumlah… hasrat jiwa muda yang sulit dikontrol terlebih ketika melihat lawan. Momen ini membuatku berpikir dua kali untuk berada menonton tv pada tengah malam yang hening ketika anggota keluarga ada yang belum tidur. Tapi sudahlah bagiku momen pada malam itu sudah cukup menjijikkan, aku rasa cukuplah pada malam itu saja.

 

Copyright @ 2013 101artikel.