Sepak bola merupakan salah satu olahraga yang paling popular, bukan hanya di Indonesia, namun sampai ke seluruh Negara. Tak jarang pesepakbola terkenal seperti Ronaldo maupun Pele bermula dari lapangan kecil di samping pemukiman atau bahkan perkebunan masyarakat.Bermain bola disetiap sore dan mengajak teman-teman di Lingkungan rumah untuk bermain bersama.Mengenakan kaos oblong dan celana pendek sebagai bawahan, tak jarang juga tanpa mengenakan baju kaos. Hampir sama dengan diriku, Pele kecil yang sangat mencintai sepakbola. Tidak sering aku absen dalam bermain bola di lapangan desa, ukurannya sekitar sepertiga dari lapangan bola biasa.tiang gawang dari kayu yang dipaku pada tiap sisinya menjadi prioritasku, tentunya aku tak ingin areaku bisa kebobolan. Namun, semua itu berubah, ketika sebuah mesin kuning datang dibawa oleh sebuah mobil beroda banyak. Mesin dengan roda baja yang berdiameter lebih besar dari tong drum kosong di rumah paman AC si penjual minyak tanah. Mesin kuning yang dapat berputar hingga tiga ratus enam puluh derajat, bertuliskan sebuah kata yang belum pernah aku eja ketika di kelas.Inilah kisahku, seorang anak kecil yang gagal menjadi Pele.
…
Pagi ini sangatlah cerah, langit biru yang menggantung di angkasa dengan sedikit bercak putih yang mendampinginya.Serperti pagi-pagi biasanya, ibu membangunkanku dari tempat tidurku.
“Bangun nak!!!, sudah jam 8” Raung ibu dari dapur sembari menyiapkan sarapan pagi untukku dan ayah.
Sekolah dimulai pada pukul tujuh lewat lima belas menit, padahal waktu masih menunjukkan pukul lima tiga puluh pagi, namun ibu mengatakan kalau sudah pukul delapan pagi. seperti itu lah ibu membangunkanku di setiap pagi, waktu seakan cepat berlalu jika ibu yang membangunkanku.
“Ia bu,” sahutku kepada ibu.
“Bangun nak, mandi! … setelah itu langsung sarapan pagi,” sela ibu
“Ayah masih mandi lo bu.”
“Nggak, Ayah udah selesai tu, segera mandi!, nanti terlambat ke sekolahnya.”
Aku langsung bergegas menuju kamar mandi, dengan membawa handuk merah yang diberikan teman kelasku sebagai hadiah ulang tahun yang ke 7 tahun beberapa bulan yang lalu.Hampir setengah Jam aku mandi, lantaran sakit perutku yang tak kunjung selesai, teringat kalau tadi malam makan mie goreng dengan sambal ekstra punya ayah.Selesai dengan kamar mandi, kusegerakan memakai seragam kebanggaanku, seragam kebanggaan pertanda cintaku terhadap tanah air.
Nasi Goreng dengan telur mata sapi buatan ibu telah terhidang di meja makan, ayah yang telah duduk di meja makan sambil melihat-lihat surat kabar harian sembari menyeruput segelas teh panas.
“Dio, kalau sudah selesai pakai seragamnya langsung makan di sini sama ayah,” sahut ayah dari meja makan
“ia yah, tinggal masang dasi aja kok,” jawabku kepada ayah
Seusai sarpan pagi, ayah mengantarkanku ke sekolah dengan motor supra tua yang selalu setia mendampingi ayah, sekaligus bukti perjalanan cinta ayah dengan ibu. Motor tua yang dibawa ayah ketika silaturahmi ke rumah kakek waktu masih pacaran dengan ayah,tak terlupa olehku untuk menyium tangan ibu sebelum berangkat ke sekolah.
Dua ratus meter telah berlalu dari rumahku, sampai ketika melewati lapangan tempatku biasa bermain sepakbola dengan teman-teman, aku melihat sebuah mobil panjang dengan roda yang banyak, empat belas roda kalau tidak salah. Berdiri sebuah mesin besar berwarna kuning yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Tampak disana, seorang berseragam kuning gelap beserta tiga orang dengan seragam yang sama sedang berdiri tak jauh dari mobil besar itu.
Ayah rupanya memperhatikanku melihat tiga orang yang tak jauh dari mobil beroda banyak itu.
“Itu Pak Penghulu dan Perangkat Penghulu di Kepenghuluan kita yo,” ujar ayah sambil menoleh kembali ke depan.
Ditempat kami namnya adalah penghulu, sebutan lain dari Kepala Desa. Sedangkan Desa, kami sebut sebagai Kepenghuluan.
“Ooohh, Ngapain mereka di sana yah?,” tanyaku dengan sangat penasaran kepada ayah
“Sepertinya akan ada yang dibangun di kepenghuluan kita,” jawab ayah.
Sekilas, rasa penasaranku sedikit terjawab, namun rasa penasaranku belum selesai sampai disana.
Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh tepat, sekitar lima belas menit lagi gerbang sekolahku akan ditutup. Tapi itu bukan masalah yang besar, karena sekolah sudah tidak jauh lagi.Bergegas aku masuk ke dalam sekolah, tak terlupa untuk menyalami ayah yang langsung menuju ke tempat kerjanya selepas mengantarkanku ke Sekolah.
…
Kring Kring Kring (Bel Sekolah pertanda jam masuk)
“Assalamualaikum Anak-anak”
“Waalaikumsalam Buk Guru”
“Pada pertemuan kali ini, kita akan membahas tentang ekosistem.Kita hidup di bumi tidak hanya seorang diri, tidak hanya manusia saja.Banyak makhluk-makhluk lain yang hidup berdampingan dengan manusia dan saling ketergantungan antara keduanya.Alam menyediakan segala hal yang menjadi kebuthan manusia.” Jelas buk guru dari depan kelas
“Coba jelaskan sedikit aktifitas anak-anak tadi pagi sebelum berangkat ke sekolah!,” Tanya buk guru kepada muridnya
“Saya Buk Guru,” sahutku kepada buk Guru
“coba dio jelaskan secara singkat aktifitas dio tadi pagi!,”
“Sebelum berangkat sekolah saya mandi, setelah itu saya memakai seragam sekolah, dan selanjutnya saya sarapan bersama kedua orang tua saya buk guru.”
“Oke terimakasih dio,”
“Tadi pagi dio mandi, Ketika mandi kita membasuh badan pakai apa anak-anak?”
“Air buk,” Balas anak-anak murid di dalam kelas
“Selanjutnya dio Sarapan pagi, Nasi terbuat dari apa anak-anak?” Tanya buk guru kembali kepada murid di kelas
“Dari Beras Buku Guru”
“Nah, dari jawaban anak-anak ibu kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa kita tidak pernah terlepas dari alam dalam berkehidupan. Kita sangat bergantung kepada alama dalama memenuhi kebutuhan hidup manusia sehari-hari.Sehingga itulah yang disebut dengan ekosistem, Interaksi antara makhluk hidup di Alam.Apabila tejadi sesuatu yang salah dengan ekosistem alam bisa jadi Dio tidak akan bisa mandi ketika pagi hendak berangkat ke sekolah, ataupun dio tidak bisa sarapan ketika ingin beraktifitas.”
Jam sekolah telah berlalu, Pelajaran-pelajaran telah kami selesaikan untuk hari itu, dan jam pulang sekolah telah tiba. Teman-temanku mulai berpegiaan pulang ke rumahnya masing-masing, ada yang sejalan denganku dan ada juga yang berlainan arah denganku.Beda hal dengan berangkat sekolah, aku di antar oleh ayah dengan motor, ketika pulang sekolah ayah tidak menjemputku lantaran ayah sedang bekerja di kantronya.
Matahari bertengger dengan kokoh pada puncaknya, membuat bayangankan tepat berada dibawah kakiku.Lengan panjang yang aku kenakan sedikit mengurangi rasa panas yang disuguhkan matahari.Tak jarang aku berteduh di bawah pohon akasia rindang di samping kebun Pak Taher yang searah dengan rumahku.
Tak jauh dari rumahku, tepatnya di dekat lapangan bola kaki kepenghuluan, samar-samar ku lihat kerumunan warga sedang meneriaki penghulu.
“Kami tidak ingin lapangan ini digusur!!!,” teriak warga kepada penghulu yang begitu keras terdengar dari kejauhan.
“Tenang … Tenang!!!,” pinta salah seorang warga kepada kerumunan warga yang lain
“Kita mohonkan kepada pak penghulu untuk menjelaskankan kepada warga” lanjut salah seorang warga itu
“Trimakasih sudah bisa tenang,” sahut Pak Penghulu
“Gak usah lama-lama pak, langsung saja jelaskan, gak usah bertele-tele,” potong masyarakat dengan nada mengancam
“Oke-Oke, Tanah ini bukanlah asset kepenghuluan, ataupun inventaris BUMKep kita.Tanah ini sudah dibeli oleh perusahaan dari seorang warga yang pernah tinggal di Kepenghuluan kita.Jadi tidak ada sangkut pautnya dengan Kepenghuluan kita.Hanya saja tanah ini berada di Kepenghuluan ini.”
Di sisi yang lain, tampak beberapa orang mengenakan helm berbentuk payung terbalik, berwarna kuning sedang berada di setiap sisi lapangan bola tempat kami bermain biasanya. Menglurukan tali dari sudut-sudut hingga membentangi setiap sisi lapangan.Mesin besar berwarna kuning telah lama menghidupkan mesinnya, seakan-akan telah siap meratakan lapangan yang tak hanya tempat kami bermain bola, namun menampung perkebunan warga kepenghuluan.
Tidak lama setelah itu, seorang berpakaian hitam dengan mengenakan jas rapi menghampiri Pak Penghulu, mengarahkan telunjuknya pada jam tangan silver di tangan kiri, seolah menandakan tanah ini beserta isinya akan segera di luluhlantahkan.
Ternyata benar, tak berselang lama, mesin besar dengan roda baja itu masuk kedalam lapangan, tiang gawang yang aku buat bersama teman-teman ikut hancur dilindas si Kuning besar itu. Tampak dari kejauahan, Buk Wati menangis tersedu-sedu melihat kebunya ikut rata di lindas Si Roda Baja.
Setelah kejadian itu, tidak sedikit masyarakat hanya berdiam di dalam rumahnya saja, lapangan yang biasanya menjadi tempat berkumpul warga, tempat berkebun Buk Wati, dan juga tempatku bermain bola menggantungnkan cita-cita untuk menjadi pemain hebat seperti pele, kini telah rata dengan tanah.
Dinding Cor tinggi kini telah melingkar mengelilingi tanah yang dahulunya lapangan tempatku bermain bola, Rangka-rangka baja telah menjulang tinggi ke langit dengan pondasi yang kokoh mengakar ke tanah.Tiga orang dengan sergam hitam lengkap dengan Hanphone berantena selalu berjaga, mengantisipasi kalau ada orang yang coba-coba memasuki area tersebut.

0 komentar:
Posting Komentar