Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.
Begitulah yang digambarkan seorang SM Mochtar dalam lagunya yang berjudul Kasih Ibu. Bagaimana seorang ibu tak pernah mengahrapkan balasan dari anaknya.
Kasih dan sayangnya selalu mengalir kepada buah hatinya, Manis getir kehidupan dirasakan demi melihat anaknya bahagia.
Disuatu sore yang dingin di perempatan jalan yang menghubungkan jl soekarno hata dengan HR. Sobrantas terlihat seorang ibu dengan anaknya. Langit yang gelap menandakan bahwa ia tak sanggup menahan isinya, rintik-rintik hujan mulai berjatuhan secara merata. Dibawa oleh angin Utara menuju ke selatan.
Suhu dingin menyelimuti seluruh rungan, menjamah inci demi inci bagian tibuh yang tak terbalut oleh pakaian.
Terlihat seorang wanita membawa sebuah keranjang yang berisikan tisu dan kain kuning (seperti lap mobil). Menyusul dibelakangnya seorang anak mengenakan celana putih dan memakai jaket berwarna kuning. Berteduh di sebuah warung makan yang sama dengan tempatku berteduh.
Lalu dia mempersilahkan anak kecil itu untuk duduk di sebuah kursi yang jauh dari tempat saya duduk. Dalam derasnya guyuran hujan, sang wanita melangkah pergi dari sang anak. Tak tau kemana wanita pergi, tapi beberapa menit setelahnya wanita bertopi merah itu kembali lagi dengan membawa sebungkus roti harga seribuan.
Dia mengangkat tangan memanggil anak kecil yang sudah berpindah dari posisi sebelumnya. Memberikan sebungkus roti kepada sang anak lalu mencium kening anak berjaket kuning tersebut. Cium hangat yang meyakinkanku bahwa itu adalah anaknya.
Sang anak tersenyum melihat kedatangan Ibunya yang membawakannya sebungkus roti coklat. Lalu wanita bercelana putih itu membukakan bungkus roti dan memberikannya kepada anaknya. Sang anak yang tak langsung memakannya meletakkannya roti di pipi dan tersenyum merasakan lembutnya roti, selang beberapa waktu barulah anak itu memakannya.
Selesai dengan roti yg dibawanya, wanita itu duduk dan mengeluarkan sebuah tumpukan kertas dan menaruhnya di atas meja. Memanggil anaknya dan mengeluarkan sebuah kotak pensil untuk digunakan oleh anaknya.
Hujan semakin deras, suhu udarapun semakin dingin. Memaksa kendaraan tak beratap untuk berhenti dan menepi mencari tempat yang teduh. Mobil-mobil berlalu langan seakan tak menghiraukan guyuran hujan yang semakin lebat.
Ibu dan sang anak mulai sibuk dengan kegiatannya. Tanpa menghiraukan debur air hujan yang jatuh ke atap membisingkan telinga.
"Dek!. Dek! Dek!" Terdengat suara lirih memanggilku di tengah gemerciknya hujan, membuatku menoleh kiri dan kanan mencari sumber suara. Ternyata suara itu berasal dari wanita yang sedang sibuk bersama anaknya tadi.
Sentak aku mendekat kepada ibu dan anaknya lantaran sulit bercakap di tengah derasnya hujan yang berisik mengalahkan suara kami.
"Kenapa buk?..." tanyaku kepada sang ibu
"Dek tau gak kepanjangan dari SISKAMLING?..."
"Oohh siskamling... Sistem Keamanan Lingkungan buk", jawabku kepada sang ibu
Dalam fikirku, ternyata ibu ini sedang mengajarkan dan membantu anaknya mengerjakan tugas sekolah.
Tanpa fikir panjang segera aku tanyakan kepada sang ibu
"Anaknya kelas berapa buk?"
"Kelas tiga SD dek" jelas ibuk itu kepadaku
"SD mana buk?" Tanyaku kembali kepada wanita itu
"SD di belakang dek" potongnya sambil menunjuk ke belakang toko tempat kami singgah
Takut mengganggu sang ibu dengan anaknya, lantas aku segera kembali pada kursiku semula.
Lampu toko mulai hidup, menerangi kegelapan dan menandakan waktu siang hendak berganti malam. Hujan tak kunjung reda memkasa aku untuk tetap bertahan dalam naungan atap toko.
Pekanbaru, 13 Oktober 2019

Amazing
BalasHapus